Translate

Rabu, 21 Maret 2012

Teknologi Rudal di Indonesia



Teknologi Rudal di Indonesia

Sebenarnya teknologi pembuatan Rudal atau roket di Indonesia sudah dirintis sejak awal tahun 1960 an. Indonesia termasuk negara kedua di Asia dan Afrika setelah Jepang yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri, yaitu roket Kartika 1 pada tanggal 14 Agustus 1964. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari bantuan teknis dari negara Uni Sovyet yang saat itu memang paling unggul di bidang teknologi Rudal atau roket. Sejak Indonesia membeli berbagai Rudal SAM (Surface to Air Missile) dari Uni Soviet sebenarnya pembangunan teknologi Rudal di dalam negeri sudah mulai dirintis. Namun sayangnya, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi akibatnya, selama lebih dari seperempat abad sejak meluncurkan satelit pertamanya, Indonesia hanya bisa bertindak sebagai konsumen saja. Sementara itu, negara-negara lain justru mulai membangun membuat serta mengembangkan teknologi Rudal dan satelit. Sebenarnya, kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China tanggal 30 Mei 2005 lalu, yang di antaranya membicarakan kerjasama pembangunan roket atau Rudal kedua negara, merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk membangun teknologi Rudal canggih. Di mana sebagai imbalannya Indonesia akan membeli beberapa Rudal China tersebut, dan diharapkan dalam jangka waktu dekat Indonesia sudah dapat melakukan transfer of technology sistem Rudal China.
 
Roket Kartika 1 dan 2

Pada tanggal 14 Agustus 1964, roket kebanggaan Indonesia Kartika 1 dengan berat 220 kg berhasil diluncurkan dengan sukses dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, berselang kemudian dilanjutkan dengan peluncuran Kartika 2. Tidak banyak diketahui publik, bahwa keberhasilan peluncuran roket tersebut merupakan hasil kolaborasi atau kerjasama Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) AURI, Instansi LAPAN dan Perguruan Tinggi ITB. Bahkan kalau kita datang ke Skuadron Udara 7 Kalijati (Lanud Surya Dharma) dapat ditemukan Rudal SAM milik Uni Sovyet yang sudah diurai sebagai bahan latihan praktek perwira Angkatan Udara kecabangan roket. Rudal yang berhasil diurai tersebutlah yang menjadi cikal bakal atau embrio pembuatan Roket Kartika 1 dan 2. Namun sangat disayangkan program perintisan Rudal di Indonesia tersebut berhenti dan tidak dapat dilanjutkan kembali.

Roket RX-250 LPN



         Rudal SA 75 (Surface ti Air) buatan Uni Sovyet yang pernah dimiliki TNI AU
 
Baru kemudian pada tahun 1987 LAPAN kembali membuat roket baru diberi nama RX-250 LPN, berbahan bakar cair dan padat dengan berat 300 kg memiliki panjang 5,30 meter berdaya jangkau 70 km. LAPAN berhasil meluncurkan roket RX-250 LPN pertama kali secara mulus dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1995 roket kedua RX-250 LPN juga berhasil diluncurkan dengan sukses. Bisa dibilang roket RX-250 LPN merupakan roket tercanggih buatan putra-putri terbaik Indonesia saat ini. Yang mungkin perlu dikembangkan lagi adalah sistem kendali roketnya yang dilengkapi sistem radar yang modern, sehingga dapat dikembangkan menjadi salah satu Alutsista militer unggulan.

Penutup
Sebagai penutup dapat ditarik kesimpulan, bahwa kemajuan dan perkembangan teknologi persenjataan militer selalu memiliki nilai strategis dan memainkan peranan penting dalam suatu peperangan. Begitu pula dengan teknologi Rudal yang mempunyai kemampuan daya jangkau jauh serta daya hancur yang mematikan akan terus berkembang sesuai laju perkembangan teknologi militer. Sehingga penguasaan teknologi Alutsista militer menjadi mutlak sifatnya dan diperlukan oleh bangsa Indonesia dalam rangka mengurangi ketergantungan peralatan atau persenjataan militer buatan luar negeri. Indonesia yang memiliki sumber daya manusia yang handal didukung berbagai fasilitas industri strategis seperti Pindad, PT. PAL, PT.DI, LAPAN dan sebagainya, sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk membangun serta mengembangkan industri militer dan pertahanannya sendiri. Jangan dilupakan, bahwa Indonesia pernah mencatat sejarah emas sebagai negara ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Canada yang memiliki satelit komunikasinya sendiri yaitu satelit Palapa A1 (diluncurkan tanggal 9 Juli 1976). Indonesia juga tercatat sebagai negara kedua di Asia dan Afrika setelah Jepang yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri, yaitu roket Kartika 1, pada tanggal 14 Agustus 1964. Catatan emas tersebut hendaknya dijadikan modal berharga bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan di bidang teknologi persenjataan militer dari negara-negara lain. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sudah mengajak segenap komponen bangsa agar mulai melakukan usaha strategis ke arah kemandirian produksi Alutsista militer dalam negeri. Karena dengan kemandirian tersebut dapat mengurangi ketergantungan Alut sista dari negara luar, serta untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya embargo militer. Nah, Pemerintah saja sudah memiliki kemauan politis (political will) untuk hal tersebut, maka tepat kiranya kita wajib mendukung agar ke depan negara Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju lainnya.
*) Pasi Evalnet Disinfonet Puspen TNI (Alumni Dept. Computer Science, The University of Sheffield, U.K.)






PENGARUH KETIDAKLURUSAN DAN KETIDAKSIMETRISAN
PEMASANGAN SIRIP PADA PRESTASI
TERBANG ROKET RX-250-LPN


Karakteristik roket RX-250-LPN

Karakteristik  roket  RX-250-LPN  diberikan

padaTabel  2-1.

Tabel 2-1: KARAKTERISTIK RX-250-LPN







ya tersebut ke dalam tata acuan koordinat inersial  OX1Z1  maka  digunakan  matrix  transfor-

masi  sebagai  berikut:

 Gambar 2-1:  Gaya-gaya yang   bekerja pada roket



Dengan mensubstitusikan persamaan(2-8)sampai dengan  persamaan (2-11)ke persamaan(2-7) dengan terlebih dahulu mentransformasikan gaya dorong dan gaya  aerodinamika

dari tata acuan koordinat benda ObXbZb ke tata acuan koordinat inersial OXIZI,maka akan diperoleh persamaan gerak translasi roket pada ruang dimensi dua yaitu  :



Di mana, persamaan gerak rotasi roket pada  ruang  dimensi  dua dapat diperoleh dengan memasukkan harga p=r=ze=ye=Fy=0  ke persamaan (2-5), maka akan diperoleh:

Persamaan(2-13) sampai dengan persamaan (2-22) adalah persamaan lengkap gerak roket  pada ruang dimensi dua pada tata acuan koordinat inersial OXIZI.Dalam analisis roket PvX 250 LAPAN ini diasumsikan mass flow (m) dari propelan roket besarnya konstan, sehingga gaya dorong roket dapat diperoleh  melalui persamaan  berikut:



dimana:
Isp : Spesifik impuls dari roket
Persamaan gerak roket pada ruang dimensi dua tersebut sangat sulit untuk diselesaikan secara analitik. Hal ini disebabkan variabel yang tidak tergantung terhadap waktu, seperti gaya
aerodinamika roket. Gaya aerodinamika roket merupakan fungsi dari kecepatan terbang roket (bilangan Mach) dan sudut serang a.





ANALISADANHASELPERHITUNGAN

 Perhitungan  Aerodinamika

Perhitungan karakteristik aerodinamika dilakukan dengan data geometri roket RX-250- LPN tersebut di atas dilakukan perhitungan
karakteristik aerodinamika dengan menggunakan perangkat lunak Digital DATCOM. Perangkat lunak ini menghasilkan perhitungan koefisien gaya angkat CL, koefisien gaya hambat Co, serta
koefisien momen pitch CM sebagai fungsi dari ketinggian dan kecepatan terbang. Hasil perhitungan karakteristik aerodinamik ini dinyatakan dalam grafik 3-1, 3-2 dan 3-3 sebagai berikut:





Koefisien gaya angkat terhadap kecepatan




Koefisien momen pitch terhadap kecepatan


Perhitungan Prestasi Terbang

Dengan menggunakan koefisien aerodinamik yang diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Digital DATCOM tersebut di atas dapat dihitung prestasi terbang roket RX-250-LPN.
Perhitungan dilakukan dengan membuat program prestasi terbang dengan menggunakan perangkat lunak MATLAB 6.3. Variasi sudutpasang sirip terhadap sumbu roket adalah 1°sampai dengan 2°, dengan pertimbangan penyimpangan sudut 3° sudah tampak dengan matatelanjang. Sudut positif adalah penyimpangansudut arah ke bawah dan negatif arah ke atas.Hasil perhitungan prestasi terbang roket RX-250-LPN berupa grafik jarak jangkau terhadapketinggian dengan variasi sudut pemasangansirip, disajikan dalam Gambar 3-4 dan 3-5 .
 


Pengaruh sudut pasang fin terhadap prestasi terbang


Pengaruh sudut pasang fin terhadap prestasi terbang


KESIMPULAN

Dari hasil perhitungan prestasi terbang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa :
· Penyimpangan sudut pemasangan sirip terhadap sumbu utama roket dapat terjadi,karena kesalahan pada waktu pembuatan,maupun kesalahan karena kurang teliti pada waktu pemasangan sirip.

· Analisis dilakukan terhadap penyimpangan sudut negatif / arah ke atas, dan sudut positif/arah ke bawah, dengan variasi sudut 1 dan 2°.
· Pada perhitungan prestasi terbang roket,diperoleh bahwa pada deflefsi sudut 2°,penyimpangan sangat besar, dibandingkan
dengan kondisi ideal/ tanpa penyimpangan.
· Pada penyimpangan sudut 1° diperoleh penyimpangan prestasi terbang baik untuk ketinggian maupun jarakjangkau lebih kurang
10%.
· Dengan demikian penyimpangan sudut pemasangan sirip tersebut hams diusahakan lebih kecil dari 1°, untuk memperoleh penyimpangan prestasi terbang kurang dari 10%.
· Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan untuk memperoleh ketelitian yang diijinkan dalam pemasangan/ integrasi sirip pada roket RX-250-LPN.
· Untuk memperoleh ketelitian yang lebih baik,dapat dilakukan perhitungan dengan variasi sudut penyimpangan dari 0,1° sampai dengan 1° dengan interval 0,1°.



DAFTARRUJUKAN

Anon. Data Roket RX250. LAPAN.
Anderson, John D., 1992, Fundamental of
Aerodynamics, John Wiley & Sons, Inc. USA.
Cornelisse, J. W., 1979, Rocket Propulsion and
Space/light Dynamics, Pitman Publishing ltd.London.
Hanselman, D and Littlefield, B., 1997, 77K
Student Edition of MATLAB Version 5
User's Guide, Prentice Hall. New Jersey.
Hughes, Peter C, 1996, Spacecraft Attitude
Dynamics, John Wiley & Sons, Inc. USA.
LaBudde, V. Edward., 1999, A Design Procedure
for Maximazing Altitude Performance,NARAM.
Meriam, J. L. and Kraige, L. G., 1993, Engineering
Mechanics Volume One, John Wiley & Sons,Inc. USA.
Nielsen, J. N, 1960 Missile Aerodynamics, McGraw-
Hill, American Institute of Aeronautics and
Astronautics, New York.
Ruijgrok, G. J. J., 1990, Elements of Airplane
Performance, Delft University Press.
Williams, J. E., 1979, The VSAF Stability and
Control Digital Datcom- Volume I, Airforce
Flight Dynamics Laboratory Wright-
Patterson Air Force Base. Ohio.



thanks to: 
Sulistyo Atmadi, Ahmad Riyadi
Peneliti Bidang Aerodinamika dan Struktur, LAPAN

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management